jump to navigation

Apa yang harus dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja? Oktober 6, 2007

Posted by iapky in Uncategorized.
Tags:
trackback

Sekretaris IAPKY Periode IPada saat baru lulus dari Perguruan Tinggi, pernahkah anda merasa “gamang” apa yang harus dilakukan? Saya akan berkarir di bidang apa? Apa sebetulnya kompetensi saya? Dan jika saya diterima bekerja, apa saja yang harus saya persiapkan? Pertanyaan ini sangat wajar, dan hal ini bisa menimpa siapa saja, bahkan saat saya baru lulus kuliah pada akhir tahun 70 an.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut banyak ditanyakan pada saat ini, dimana persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat, namun di sisi lain peluang untuk berkarir juga semakin luas, baik bagi kaum wanita atau laki-laki. Saya juga sering mendengar omongan orang-orang yang bergerak di bidang HRD, dan juga Direktur salah satu perusahaan, yang menyatakan….”anak sekarang jauh lebih pintar, tapi bila di wawancara, sulit sekali mencari yang match dengan kebutuhan perusahaan..” Nahh, dimana letak permasalahannya?

1. Pandai saat kuliah saja “tidak cukup”

Pada umumnya bangku kuliah memberikan pendidikan formal, apalagi dengan sistem 144 sks saat ini yang membuat waktu mahasiswa sangat sempit untuk melakukan kegiatan di luar kuliah. Sangat dianjurkan, pada saat kuliah, para mahasiswa mempunyai kegiatan di luar kegiatan kuliah, syukur jika bisa sambil bekerja paruh waktu, karena tanpa disadari pengalaman ini sangat membantu pada saat mencari pekerjaan.

Apabila sudah diterima bekerja, muncul kembali pertanyaan, kenapa ya kok saya kurang merasa cocok dengan pekerjaan ini, dan ingin pindah pekerjaan. Jika anda pindah pekerjaan setelah 6 (enam) bulan atau satu tahun, hal tersebut wajar. Namun bagaimana jika baru bekerja 2 (dua) atau 3 (tiga) bulan sudah merasa nggak cocok? Banyak keponakan, senior anak saya yang curhat, tentang pekerjaan yang setiap kali dirasakan tak sesuai dengan keinginannya. Dari hasil diskusi, ternyata dia sendiri sebetulnya tak mengetahui apa yang diinginkan. Atau jika karena gajinya sudah cocok, yang nggak cocok adalah situasi lingkungannya. Peralihan dari kehidupan mahasiswa ke dunia kerja, memang merubah kebiasaan, dan disadari ada orang yang mudah beradaptasi, dan ada pula yang harus memerlukan waktu cukup lama. Dari hasil percakapan, akhirnya diperoleh data bahwa sebetulnya yang bersangkutan merasa “gamang”, tak tahu apa yang dikerjakan, dan mau bertanya pada sekelilingnya, rata-rata karyawan senior sibuk. Pada saat ditanyakan, apakah dia membuat list apa-apa yang harus dikerjakan sesuai job description, jawabannya adalah karena karyawan baru, jadi dia hanya disuruh belajar. List yang dibuat, kalau sewaktu-waktu ada kesempatan bertanya, tak dapat dilaksanakan karena semua orang sibuk. Gajinya lumayan bu, tapi saya merasa tak bisa berbuat apa-apa, keluhan fresh graduate tersebut.

Sebuah hasil penelitian terhadap fresh graduate pada beberapa perusahaan multinasional mengatakan, bahwa 20% dari para fresh graduate yang “dicemplungkan” tanpa bimbingan dapat bekerja dan berkinerja sesuai harapan perusahaan. Sejumlah 30% lainnya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi, sedang 50% sisanya akan jadi karyawan yang tidak berkinerja optimal, setidaknya satu tahun, atau bahkan selamanya (Eileen R. dan Sylvina S, 2007). Anda bisa membayangkan kerugian yang diperoleh karyawan maupun perusahaan, karena dari karyawan baru, hanya 50% yang beradaptasi dan 30% masih memerlukan waktu. Apabila 50% kinerja karyawan baru, berkinerja baik setelah melewati satu tahun, atau berkinerja buruk selamanya, apakah tidak lebih baik jika perusahaan lebih mempersiapkan sistem penerimaan para fresh graduate ini?

Dari pengamatan secara pribadi, orang-orang yang berhasil melewati tahap wawancara (biasanya merupakan tahap ke 6, sebelum test kesehatan), adalah para fresh graduate yang saat menjadi mahasiswa aktif di berbagai kegiatan, sempat bekerja paruh waktu, atau sempat bekerja lebih dulu di perusahaan lain. Mereka lebih fokus dalam menjawab pertanyaan, jawaban lebih tertata, sehingga memudahkan assessor dalam menilai apakah kompetensinya match dengan kompetensi yang dibuthkan perusahaan. Pada umumnya para pewawancara telah dibekali ilmu untuk bisa menggali kompetensi dari yang diwawancara. Apabila kompetensi yang diperlukan belum muncul, pewawancara akan mencoba mengajak mengobrol ringan, agar peserta tidak stres dan dapat menunjukkan kemampuannya.

Komentar»

1. hestywidyasih - Januari 17, 2008

Maaf pak, apa hubungannya isi artikel dengan ilustrasi foto yang dipasang?

2. Rifky Arzelli - Juni 23, 2008

Wah mantab. Kebetulan saya mau cari kerja lagi, mudah2an bisa membantu saya dari segi motivasi. Thanks

Kalo mau tau tentang saya, sering2 ajah maen ke
http://www.rifkyarzelli.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: